Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Thursday, November 5, 2009

Kenapa Saya?

Arthur Ashe, adalah salah satu legenda tenis di Amerika yang sukses di Wimbledon, sedang menderita karena infeksi AIDS yang didapat sejak menjalani bedah jantung di tahun 1983.

Dari fansnya di seluruh penjuru dunia, dia menerima banyak surat dukungan yang salah satunya bertanya: "Kenapa TUHAN memilih Anda untuk mengindap penyakit yang luar biasa ini?"

Dan jawaban Arthur Ashe adalah:

"Di seluruh dunia, mungkin ada 50 juta anak yang mulai main tenis; 5 juta diantaranya belajar tenis dengan serius di klub; 500 ribu di antaranya kemudian menjadi pemain profesional; 50 ribu di antaranya bermain dalam sirkuit tenis dunia; 5000 di antaranya mampu masuk ke sirkuit Grand Slam; dan 50 di antaranya ikut ke Wimbledon; 4 pemain masuk semi final dan 2 orang bermain di final.

Dan ketika saya akhirnya mengangkat piala Wimbledon saya tidak pernah bertanya, 'Kenapa Saya?'

Jadi ketika saya sekarang menderita karena AIDS, tidak seharusnya saya bertanya kepada Tuhan 'Kenapa Saya?' Tuhan terlalu baik untuk saya.”

Kegembiraan membuat Anda tetap menarik; selalu berusaha dan mencoba membuat Anda kuat; kesedihan membuat Anda tetap sadar sebagai manusia; Kegagalan membuat Anda tetap rendah hati; Kesuksesan membuat Anda bersinar,... tapi Tuhan akan membuat Anda tetap berjalan dan tegar!!!

Cara Pandang atas Sebuah Penghargaan

Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya. Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi. Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu. Ia mengambil catatan itu dan membacanya, “Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di mulut anjing ini.”

Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar di sana. Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik dan diletakkan kembali di mulut anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan. Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan berjalan mengikuti si anjing.


Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar dengan kantung plastik di mulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya. Anjing tsb kemudian sampai ke perhentian bus, dan mulai melihat “Papan informasi jam perjalanan “.

Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya. Si anjing melihat “Papan informasi jam perjalanan ” dan kemudian duduk disalah satu bangku yang disediakan. Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya dan melihat nomor bus dan kemudian kembali ke tempat duduknya. Bus lain datang. Sekali lagi bus lainnya datang. Sekali lagi si anjing menghampiri dan melihat nomor busnya. Setelah melihat bahwa bus tersebut adalah bus yang benar, si anjing naik. Si penjual daging, dengan kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut. Bus berjalan meninggalkan kota, menuju ke pinggiran kota. Si anjing Melihat pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus, ia berdiri dengan 2 kakinya dan menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian ia keluar, kantung plastik masih tergantung di mulutnya.

Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan sambil dikuti si penjual daging. Si anjing berhenti pada suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil dan meletakkan kantung plastik pada salah satu anak tangga. Kemudian, ia mundur, berlari dan membenturkan dirinya ke pintu. Ia mundur, dan kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tsb. Tidak ada jawaban dari dalam rumah, jadi si anjing kembali melalui jalan kecil, melompati tembok kecil dan berjalan sepanjang batas kebun tersebut. Ia menghampiri jendela dan membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik da menunggu di pintu.

Si penjual daging melihat seorang pria tinggi besar membuka pintu dan mulai menyiksa anjing tersebut, menendangnya, memukulinya, serta menyumpahinya. Si penjual daging berlari untuk menghentikan pria tersebut, “Apa yang kau lakukan ..? Anjing ini adalah anjing yg jenius. Ia bisa masuk televisi untuk kejeniusannya. ” Pria itu menjawab, “Kau katakan anjing ini pintar …? Dalam minggu ini sudah dua kali anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya ..!”

Mungkin hal serupa pernah terjadi dalam kehidupan kita. Sesuatu yang kurang memuaskan, mungkin adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi orang lain. Yang membedakan hanyalah seberapa besar penghargaan kita. Pemilik anjing tidak menghargai kemampuan si anjing dan hanya terfokus pada kesalahannya semata, sehingga menganggapnya anjing yang bodoh. Sebaliknya, sang pemilik toko menganggap anjing tersebut luar biasa pintarnya karena mampu berbelanja sendirian.

Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa setiap harinya kita menghadapi pilihan yang sama. Kita punya dua pilihan dalam menghadapi hidup ini, apakah hendak mengeluh atas berbagai hal yang kurang memuaskan, atau bersyukur atas berbagai karunia yang telah kita terima. Semuanya terpulang pada diri kita sendiri...

Sederhana

Suatu kali seorang anak kecil datang menghampiri ibunya, katanya seperti ini, "Ma, aku mau ngebantu papa membetulkan mobil itu, tapi aku gak tahu caranya. Aku kan tidak mengerti tentang mesin. Nanti bukannya membantu malah ngerusakin lagi." Sang ibu yang melihat keinginan besar dari anaknya menjawab, "Nih, kamu bawa gelas air kasih ke papa sana," Tanpa disuruh dua kali, ia pun berjalan perlahan-lahan sambil membawa segelas air.

Tidak berapa lama kemudian sampailah di samping ayahnya yang sedang bekerja. Namun, saking seriusnya ayahnya tidak menyadari kehadiran si anak. Tidak kehabisan akal, si anak pun menepukkan tangannya ke paha sang ayah dan benar ayahnya pun menoleh kepadanya. Dengan tersenyum, anak kecil ini menyodorkan gelas berisi air kepada sang ayah. Terkejut dengan apa yang dilakukan anaknya, sang ayah menerima gelas tersebut dan meminumnya.

Setelah meminum air tersebut, sang ayah pun mengucapkan kata-kata terima kasih kepada si anak, "Terima kasih ya, Nak, udah bawain papa air minum. Apa yang kamu lakukan telah membantu papa sehingga papa tidak kehausan lagi dan bisa menyelesaikan memperbaiki mobil yang sedang rusak ini".

Seringkali kita pun berpikir sama dengan yang anak kecil itu pikirkan. Kita berusaha keras mencari bagaimana menyenangkan hati Tuhan dengan giat dalam pelayanan mimbar atau persekutuan yang menghadirkan ribuan jiwa. Kita merasa dengan melakukannya semuanya itu kita telah membuatnya tersenyum. Namun, ternyata Dia tidak terlalu memperhatikan itu.

Yang membuat Allah tersenyum adalah ketika Anda dengan setia mencari wajah-Nya setiap hari; tidak bersungut-sungut ketika mendapat pekerjaan yang sepertinya remeh yang diberikan oleh orang di keluarga, kantor, maupun gereja Anda. Semua itu mungkin terlihat sederhana bagi orang-orang dunia, tetapi Dia memperhitungkannya.

Ukuran Tuhan menilai Anda adalah kesetiaan, hanya itu.

Matius 25:21
"Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

He Knows You Very Well

Suatu ketika seorang ayah sedang memarahi anaknya karena tidak mendengar nasihatnya untuk tidak dekat-dekat dengan kolam renang yang dalam. Sang anak yang masih berusia tiga tahun tersebut hanya bisa menangis dan menangis.

Semakin ayahnya menasihati dia, anak ini pun terus menangis.

Hati sang ayah akhirnya luluh juga melihat tangisan dari anaknya. Bahkan perasaannya pun semakin pedih ketika anaknya memeluk dirinya sambil meminta maaf. Sang ayah pun akhirnya menurunkan badannya dan mulai menatap wajah putra kesayangannya itu yang telah dibanjiri oleh air mata. Sambil mengusapkan air mata anaknya, ayahnya berkata, "Nak, Ayah tahu kamu mau pandai berenang dan ayah mendukungnya. Tetapi, usia kamu masih sangat muda dan perlu bimbingan. Apa yang kamu lakukan tadi, bisa membahayakan jiwa kamu. Ada saatnya untuk kamu berada di kolam renang itu, tetapi tidak sekarang. Percayalah, bila saatnya itu tiba, ayah akan mengizinkan kamu berenang disana".

Si anak hanya menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang diucapkan ayahnya dan tidak berapa lama kemudian senyum pun ia tunjukkan kepada ayah yang dikasihinya itu.

Seberapa banyak dari kita sering melakukan apa yang seperti anak kecil itu lakukan - tidak dengar-dengaran dan akhinya berujung kepada penyesalan? Dengar-dengaran disini ditujukan kepada gembala gereja Anda, orangtua Anda, pimpinan perusahaan Anda, bahkan terlebih besar lagi, kepada Allah yang Anda dan saya sembah.

Kita seringkali membangkang dari apa yang Tuhan perintahkan. Kita merasa nasihat yang Dia katakan adalah sebuah ketakutan yang tidak mendasar dari diri-Nya. Namun, sejalan dengan waktu, saat apa yang Tuhan sampaikan adalah benar adanya maka biasanya yang kita lakukan hanya menangis dan meminta-Nya mengampuni dosa yang kita lakukan.

Berhenti berbuat seperti itu dan mulai bangun iman Anda tiap-tiap hari. Taruhkan hidup Anda ditangan-Nya. Anda tidak akan menyesal ketika melakukannya karena Tuhan adalah Allah yang begitu mengenal Anda dengan baik - He knows you very well.

Tidak ada yang dapat mengenali diri Anda dengan sempurna selain Allah sendiri.

Mazmur 1:6
"Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan."

Saturday, October 10, 2009

Semangkuk Bakmi Panas

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi,tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?" " Ya, tetapi, aku tdk membawa uang" jawab Ana dengan malu-malu

"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu" jawab si pemilik kedai.
"Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. " Ada apa nona?" Tanya si pemilik kedai. "tidak apa-apa" aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

"Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah" "Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri" katanya kepada pemilik kedai.


Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata "Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya"

Ana, terhenyak mendengar hal tsb. "Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih,tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau
tdk memakannya sekarang". Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan
ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.

RENUNGAN:

BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA.
SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES
ALAMI YANG BIASA SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH
HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.
PIKIRKANLAH HAL ITU??
APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?

HAI ANAK-ANAK, TAATI DAN HORMATILAH ORANG TUAMU DALAM KESEHARIANMU, KARENA
ITULAH HAL YANG INDAH DIMATA TUHAN.

Saturday, September 12, 2009

Seikat Bunga

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum. Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata, “Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak, karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!”

Penjaga kuburan itu menganggukan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.

Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, “Saya Ny. Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya.”

“O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda.” jawab pria itu.

“Apa, maaf?” tanya wanita itu denga gusar.

“Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang.

Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya,” jawab pria itu.

Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.

“Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny. Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal..

Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia.

Sampai saati ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!”

Moral cerita:
Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong diri sendiri.

Saturday, August 15, 2009

Rencana Indah

“Tuhan kami tahu bahwa ada satu rencana indah dibalik ini semua, kami percaya bahwa semua ini yang terbaik, tapi kami menyayanginya Tuhan, dan kami merasa sangat kehilangan Dani. Tuhan ajari kami untuk bisa menerima semua ini dan ajari kami untuk menjadi lebih dewasa melalui kejadian ini”
 
Doa itulah yang terucap dari mulut seorang ayah di pusara putranya seusai prosesi pemakaman. Semua yang masih tinggal di kompleks pemakaman dan mendengar sepenggal doa itu pun tak kuasa menahan air mata. Suasana duka yang mendalam begitu terasa. Seorang Daniel Ari Wardhana telah di panggil pulang ke pangkuan Bapa.
 
Daniel adalah salah satu mahasiswa jurusan matematika yang tercerdas di angkatannya, pemain gitar yang hebat, dan sosok anak yang mandiri. Saya sendiri mengenalnya sejak pertengahan tahun 2005 saat mengisi acara dalam pendampingan mahasiswa baru FMIPA UNY. Kemudian kami sering saling sapa jika kebetulan bertemu di lorong-lorong kampus maupun di acara persekutuan. Tahun 2006 kami sama-sama menjadi panitia Inagurasi PMK, saat itulah saya mengenalnya lebih jauh. Saya tertawa ketika tahu dia pengagum berat Sheila on 7, saya juga sempat mengucapkan selamat ketika di semester awal dia mendapatkan IP 4 bulat, dan saya juga masih ingat betul ketika dia menjelaskan tentang detil games yang akan dimainkan pada saat outbond. Namun setelah Inagurasi selesai saya sudah jarang bertemu ataupun mendengar kabar tentangnya. Hingga akhirnya Jumat siang tanggal 24 Juli 2009 datanglah berita duka itu.
 
Siang itu saat Daniel akan pergi ke kampus untuk bimbingan skripsi. Sebelum pergi dia menyempatkan diri untuk berdoa. Mungkin sudah mendapatkan firasat bahwa dia akan pergi untuk selamanya, doanya kali itu berlangsung lama dan tentu saja hal itu membuat heran ibunya. Setelah berpamitan diapun beranjak pergi. Dalam perjalanan sebuah truk menyerempet motornya, membuatnya terjatuh, dan truk itu yang kemudian menyeret serta melindas kepalanya. Saat itu pula dia langsung meninggal di lokasi kejadian, tanpa rasa sakit yang berkepanjangan. Ayahnya yang berada tepat di belakang motor Daniel melihat secara langsung kejadian tersebut.
 
Saya tidak mampu membayangkan bagaimana perasaan sang Ayah melihat putranya terseret truk, kemudian jatuh dan terlindas. Bagaimana perasaan beliau ketika mengangkat tubuh putranya yang sebagian kepalanya sudah hancur dengan tangannya sendiri. Darah mengalir dari tubuh Daniel dan membasahi pakaian Sang Ayah. Jika semua dapat dihentikan, saya yakin Ayahnya lebih memilih untuk meninggal tertabrak truk daripada harus menyaksikan kejadian itu menimpa putra pertamanya. Kejadian saat itu pasti sangat memilukan bagi siapa saja yang melihatnya.
 
Namun satu hal yang benar-benar membuat saya tak kuasa menahan air mata adalah ketika Sang Ayah dengan tegar menceritakan tentang kejadian yang menimpa putranya, kemudian beliau tidak marah kepada Tuhan karena merasa Tuhan tidak adil, melainkan beliau tetap percaya bahwa rencana Tuhan baik adanya. Dalam segala keadaan beliau tetap mengucap syukur kepada Tuhan. Beliau tidak memungkiri kenyataan bahwa beliau merasa sangat kehilangan, namun bagaimanapun juga hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Meski semua kejadian itu belum bisa beliau terima, namun beliau memilih untuk berserah sepenuh kepada Tuhan.
 
Kadang tanpa saya sadari saat banyak hal buruk menimpa saya, saya marah-marah kepada Tuhan bahkan terkadang berlari menjauh serta meninggalkanNya. Saya merasa Tuhan tidak adil dalam memperlakukan saya. Namun melalui kejadian ini saya disadarkan tentang berbagai hal. Keadilan itu bukan menurut pendapat saya, melainkan itu otoritas Tuhan. Apapun yang Tuhan beri dalam kehidupan saya adalah baik dan adil adanya. Tuhan tidak pernah membiarkan saya mengatasi masa-masa sulit sendiri. Yang Tuhan inginkan dari saya hanyalah penyerahan diri sepenuh untuk tunduk terhadap otoritasNya dan bersyukur dalam setiap keadaan. 
 
“Jika kami menang dan bahagia kami akan memuji namaMu, namun jika kami kalah serta berduka pun kami akan tetap memuji namaMu” - Facing the Giants
Dani, saya tahu bahwa kepergianmu tidaklah sia-sia. Saya yakin dan sepakat bahwa rencana Tuhan baik adanya. Kepergianmu telah mengajarkan sesuatu kepada kami yang engkau tinggalkan. Kedewasaan dalam pengenalan akan Tuhan, dan penyerahan total kepada kehendak Tuhan, karena semua yang Tuhan berikan adalah baik adanya. Selamat jalan sahabatku, aku percaya bahwa Tuhan telah persiapkan tempat indah untukmu.

*dari pengalaman seorang teman*

Saturday, June 27, 2009

Aku Mendengarmu...

Anak-Ku, Aku tahu bahwa kadang kala kamu berdoa sekeras yang kamu dapat dan segalanya belum juga berubah sesuai dengan yang kamu doakan. Sehingga kamu heran dimana saja Aku berada selama itu. Apakah Aku mendengarmu? Tentu saja Aku mendengarmu.
 
Meskipun kamu tak dapat melihat-Ku, Aku selalu berada di sini. Aku tahu bahwa kadang-kadang hidup terasa tidak adil. Namun doa tidak bekerja seperti mesin soda ketika kamu memasukkan uang logam dan keluarlah kalengnya. Doa bekerja berdasarkan iman. Ketika kamu bingung, bawalah kepada-Ku bermacam-macam perasaan yang kamu miliki , dan Aku akan memberimu iman.
 
Iman bukanlah jalan keluar dari rasa sakit; namun membangun jalan melintasi rasa sakitmu. Iman tidak membuat hal-hal menjadi mudah, namun memberimu kekuatan tambahan pada masa-masa sulit. Iman dapat memindahkan gunung-gunung., bahkan gunung-gunung seperti kekhawatiran, kesepian, dan keputusasaan. Biarlah Aku memperkuat imanmu.

Sahabatmu Yang Setia,
Tuhan
 
Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pundah, dan tidak ada yang mustahil bagimu (Matius 17:20)

Wednesday, June 10, 2009

Kebohongan Seorang Ibu

Delapan “Kebohongan” Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan Kita sehari-Hari, Kita percaya bahwa kebohongan akan
Membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam,

Tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna
Sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka Mata Kita Dan
Terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong
Mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
Anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan
Saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
Nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
Waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu
Berharap dari ikan hasil pancingan, IA bisa memberikan sedikit makanan
Bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
Yang segar Dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
Ibu duduk disamping gw Dan memakan sisa daging ikan yang masih
Menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
Makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu
Menggunakan sumpitku Dan memberikannya kepada ibuku.
Tetapi ibu dengan Cepat menolaknya, IA berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan Ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang Dan
Kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api
Untuk ditempel, Dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang
Untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun
Dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil Dan
Dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku
Berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus
Kerja.” Ibu tersenyum Dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak
Capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
Pergi ujian. Ketika Hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
Ibu yang tegar Dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
Beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
Selesai. Ibu dengan segera menyambutku Dan menuangkan teh yang
sudah Disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental
Tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
Ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak
Haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
Sebagai ayah Dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
Dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga Kita
Pun semakin susah Dan susah. Tiada Hari tanpa penderitaan. Melihat
Kondisi keluarga yang semakin parah, Ada seorang paman yang baik hati
Yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
Maupun masalah kecil. Tetangga yang Ada di sebelah rumah melihat
Kehidupan Kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
Menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
Nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku Dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah
Dan Bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak Mau, IA real untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
Sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku Dan abangku yang
Bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
Memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang
Tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya
Punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah Lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 Dan kemudian
Memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika
Berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja
Di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
Membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik
Hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya,
IA berkata kepadaku “Aku Tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
Lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
Seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk
Ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya
Setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku
Dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya
Terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas
Betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat
Lemah Dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air
Mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti
Ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “jangan menangis anakku,Aku
Tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
Menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
Tersentuh Dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ”

Pelangi Sehabis Hujan

Ketika awan mendung datang mendekat, aku menjadi takut
Kegelapan seakan menutupi semua rencana indahku esok hari

Tetapi ketika fajar menyingsing menyambutku
Dengan angin sepoi – sepoi dari timur dan embun pagi
Semua keraguanku pun lenyap
Dan aku menghadapi hari itu dengan penuh semangat.

Aku tidak pernah membatasi diriku
Untuk janji pada pagi hariku yang baru
Walaupun mungkin ada badai
Yang mengganti angin sepoi – sepoi di pagi hari

Ketika hal tersebut terjadi, aku menahan diriku
Aku melihat keluar dan mengamati cuaca
Aku berdoa dan melipat tanganku
Tuhan akan menolongku bertahan dalam badai

Seperti ku lihat dalam hidupku
Aku selalu penuh sukacita dan bersyukur
Sesungguhnya, tidak ada kesia – siaan hidup
Lihatlah, selalu ada pelangi setelah hujan


“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 43:5)

Saatnya Menuai Cinta

Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang hamba yang sangat lugu - begitu lugu, hingga orang-orang menyebutnya si bodoh.

Suatu kali sang tuan menyuruh si bodoh pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih hutang para penduduk di sana. "Hutang mereka sudah jatuh tempo," kata sang tuan.

"Baik, Tuan," sahut si bodoh. "Tetapi nanti uangnya mau diapakan?"

"Belikan sesuatu yang aku belum punyai," jawab sang tuan.

Maka pergilah si bodoh ke perkampungan yang dimaksud. Cukup kerepotan juga si bodoh menjalankan tugasnya; mengumpulkan receh demi receh uang hutang dari para penduduk kampung. Para penduduk itu memang sangat miskin, dan pula ketika itu tengah terjadi kemarau panjang.

Akhirnya si bodoh berhasil jua menyelesaikan tugasnya. Dalam perjalanan pulang ia teringat pesan tuannya, "Belikan sesuatu yang belum aku miliki."

"Apa, ya?" tanya si bodoh dalam hati.

"Tuanku sangat kaya, apa lagi yang belum dia punyai?"

Setelah berpikir agak lama, si bodoh pun menemukan jawabannya. Dia kembali ke perkampungan miskin tadi. Lalu dia bagikan lagi uang yang sudah dikumpulkannya tadi kepada para penduduk.

"Tuanku, memberikan uang ini kepada kalian," katanya.

Para penduduk sangat gembira. Mereka memuji kemurahan hati sang tuan.

Ketika si bodoh pulang dan melaporkan apa yang telah dilakukannya, sang tuan geleng-geleng kepala.

"Benar-benar bodoh," omelnya.

Waktu berlalu. Terjadilah hal yang tidak disangka-sangka; pergantian pemimpin karena pemberontakan membuat usaha sang tuan tidak semulus dulu.

Belum lagi bencana banjir yang menghabiskan semua harta bendanya.

Pendek kata sang tuan jatuh bangkrut dan melarat. Dia terlunta meninggalkan rumahnya. Hanya si bodoh yang ikut serta. Ketika tiba di sebuah kampung, entah mengapa para penduduknya menyambut mereka dengan riang dan hangat; mereka menyediakan tumpangan dan makanan buat sang tuan.

"Siapakah para penduduk kampung itu, dan mengapa mereka sampai mau berbaik hati menolongku?" tanya sang tuan.

"Dulu tuan pernah menyuruh saya menagih hutang kepada para penduduk miskin kampung ini," jawab si bodoh.

"Tuan berpesan agar uang yang terkumpul saya belikan sesuatu yang belum tuan punyai. Ketika itu saya berpikir, tuan sudah memiliki segala sesuatu. Satu-satunya hal yang belum tuanku punyai adalah cinta di hati mereka. Maka saya membagikan uang itu kepada mereka atas nama tuan. Sekarang tuan menuai cinta mereka."

Terkadang kita tidak tahu, hal-hal yang tidak penting menurut kita ternyata justru itulah yang akan menjadi penolong disaat kita jatuh.
Sedari itu., jangan pernah melupakan sesama, kebaikan sekecil apapun suatu saat kita akan menuai hasilnya...
Di suatu desa kecil, hidup seorang bernama Ebun, seorang pembuat mainan kayu untuk anak – anak.

Ebun sangat berbakat dan sangat terkenal hingga ke desa – desa di sekitarnya. Orang – orang dari berbagai daerah datang untuk membeli mainan kayunya atau membawa mainan rusak untuk diperbaiki. Ia sangat berhati – hati dan terampil dalam memperbaiki mainan rusak, sehingga mainan yang diperbaikinya akan terlihat seperti baru kembali.

Ebun mempunyai seorang anak perempuan, dan ia membuatkan sebuah boneka kayu yang sangat indah untuk anaknya itu pada ulang tahunnya yang ke sepuluh. Gadis kecil itu sangat menyukai boneka tersebut dan selalu membawanya ketika bermain.

Pada suatu hari bonekanya itu patah, ia menangis dan berlari menuju tempat ayahnya. Ia mengeluh kepada ayahnya bahwa tangan bonekanya patah pada waktu bermain tadi. Ayahnya mendengarkan keluhannya dan menghiburnya. Ia meminta anaknya meninggalkan boneka itu untuk diperbaiki dan mengambilnya kembali setelah diperbaiki.

Si gadis kecil berkata, “ Tidak ayah, kau tidak mengerti. Aku ingin tangan yang satu lagi dipotong kemudian dipelitur setelah itu di lem atau di paku untuk menyambung kembali.” Sang ayah berusaha menjelaskan kepadanya untuk meninggalkan bonekanya dan kembali lagi untuk mengambilnya. Ia yang membuat boneka itu dan ia tahu cara terbaik untuk memperbaikinya. Si gadis kecil tidak sabar dan berkata kepada ayahnya, “Ayah, kau tidak mengerjakan sesuai dengan cara yang aku inginkan, kau terlalu lambat.” Sehabis berkata demikian si gadis kecil mengambil bonekanya dan meninggalkan ayahnya di bengkel kerja. Sang ayah mencoba memanggilnya, tetapi gadis kecil tersebut tidak mau mendengarnya, dan sang ayah pun merasa sangat sedih.

Seperti juga gadis kecil tersebut, kebanyakan dari kita juga membawa segala persoalan kita kepada Tuhan dan mencoba mengatur-Nya untuk menyelesaikan persoalan tersebut sesuai dengan keinginan kita. Sering kali kita menyadari bahwa Tuhan yang menciptakan kita dan Ia mengerti cara terbaik untuk menangani persoalan kita, jika kita menyerahkan persoalan tersebut di bawah kaki-Nya.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman Tuhan.” (Yesaya 55:8)

Cerita Sang Anjing Kecil

Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya. Kata kuda itu : "Kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya, sebab saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya", ujarnya dengan sinis.

Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi, lalu dia mendengar seekor sapi di kandang sebelah berkata : "Saya adalah binatang yang paling terhormat di sini sebab nyonya di sini membuat keju dan mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak berguna bagi keluarga di sini", dengan nada mencemooh.

Teriak seekor domba : "Hai sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya, saya memberi mantel bulu kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan kepada seluruh keluarga. Tapi omonganmu soal anjing kecil itu, kayanya kamu memang benar. Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini."

Satu demi satu binatang di situ ikut serta dalam percakapan itu, sambil menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang itu. Ayam pun berkata bagaimana dia telah memberikan telur, kucing bangga bagaimana dia telah mengenyahkan tikus-tikus pengerat dari ladang itu. Semua binatang sepakat kalau si anjing kecil itu adalah mahluk tak berguna dan tidak sanggup memberikan kontribusi apapun kepada keluarga itu.

Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, anjing kecil itu pergi ke tempat sepi dan mulai menangis menyesali nasibnya, sedih rasanya sudah yatim piatu, dianggap tak berguna, disingkirkan dari pergaulan lagi.....

Ada seekor anjing tua di situ mendengar tangisan tersebut, lalu menyimak keluh kesah si anjing kecil itu. "Saya tidak dapat memberikan pelayanan kepada keluarga disini, sayalah hewan yang paling tidak berguna disini."

Kata anjing tua itu : "Memang benar bahwa kamu terlalu kecil untuk menarik pedati, kamu tidak bisa memberikan telur, susu ataupun bulu, tetapi bodoh sekali jika kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa kegembiraan."

Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan tampak amat lelah karena perjalanan jauh di panas terik matahari, anjing kecil itu lari menghampirinya, menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya. Sambil menjatuhkan diri ke tanah, pemilik ladang dan anjing kecil itu berguling-guling di rumput disertai tawa ria.

Akhirnya pemilik ladang itu memeluk dia erat-erat dan mengelus-elus kepalanya, serta berkata : "Meskipun saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua jadi sirna, bila kau menyambutku semesra ini, kamu sungguh yang paling berharga di antara semua binatang di ladang ini, kecil kecil kamu telah mengerti artinya kasih........."
Jangan sedih karena kamu tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang lain karena memang tidak memiliki kemampuan untuk itu, tetapi apa yang kamu dapat lakukan, lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya.....
Dan jangan sombong jika kamu merasa banyak melakukan beberapa hal pada orang lain, karena orang yang tinggi hati akan direndahkan dan orang yang rendah hati akan ditinggikan.